Kartu Nikah: Cara Mendapatkan, Bentuk dan Manfaatnya

Pemberian kartu nikah kepada pasangan suami istri sudah mulai berlaku sejak 2018 silam. Kartu ini sebagai salah satu bukti legalitas pernikahan di Indonesia.

Lantas bagaimana dengan pasutri yang sudah lama menikah?

Direktur KUA dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam Kemenag menjawab keresahan ini dan menyatakan jika kartu ini bisa dimiliki oleh setiap pasangan. Sifat dari kartu ini hanya sebagai pelengkap agar lebih memudahkan pendataan online.

Kartu ini sudah terintegrasi dengan sistem informasi manajemen nikah atau Simkah.

Selain itu, produk ini juga menjadi terobosan Kemenag yang juga dihubungkan dengan SIMPONI (Sistem Informasi PNBP Online) dan SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) Kemendagri.

Bentuk Fisik dan Spesifikasi Kartu Nikah

kartu nikah

Jika dilihat secara fisik, kartu nikah hampir sama dengan kartu identitas Kamu lainnya seperti KTP dan ATM.  Bentuknya persegi panjang dengan ukuran panjang 8,56 cm dan lebarnya 5,40 cm. Warna dari kartu nikah yakni hijau muda bermotif.

Kartu nikah online tidak hanya berupa fisik saja, tetapi juga berupa e-card yang bisa Kamu lihat melalui web resmi Simkah.

Jika Kamu membutuhkan kartu ini sewaktu-waktu dan lupa membawa kartu fisiknya, maka cukup buka aplikasi dan scan barcode kartu yang sudah terdaftar.

Spesifikasi dari kartu nikah terdiri dari beberapa bagian, antara lain:

  1. Bagian atas terdiri kop kemenag RI ‘Kartu nikah’ dan disamping kiri terdapat logo garuda, sedangkan di sebelah kiri logo kemenag.
  2. Bagian tengah berupa pas foto suami dan istri dengan background biru.
  3. Bagian bawah terdapat kode scan QR.
  4. Berbasis Sistem Informasi Manajemen Nikah atau Simkah

Untuk Siapa Kartu Nikah

Kartu ini hanya bisa didapatkan oleh warga negara Indonesia yang beragama muslim. Kartu ini sebagai penunjuk status perkawinan seseorang.

Dirjen Dukcapil Kemendagri, bapak Zudan Arif menyatakan jika pencatatan pernikahan untuk masyarakat non muslim dilakukan di disdukcapil.

Fungsi dan Manfaat Kartu Nikah

Sebelumnya, perlu diingat !
Fungsi kartu nikah bukan sebagai pengganti buku nikah sebagai bukti legal resmi pasangan yang sudah menikah.

  • Sebagai bukti legalitas tambahan sebuah perkawinan yang ada di Indonesia
    Kartu nikah menjadi pelengkap sekaligus bukti yang sah atas perkawinan pasangan suami dan istri.

    Kartu ini juga bisa digunakan sebagai perwakilan buku nikah untuk beberapa urusan karena semua datanya bisa dilihat secara online.

    Tapi tetap diingat, buku nikah tetap harus dimiliki setiap pasangan menikah.

  • Untuk mengintegrasikan data perkawinan di KUA, Dukcapil dan kemendagri
    Adanya kode QR atau Quick Response yang ada di bagian bawah kartu difungsikan untuk menyambungkan data ke aplikasi Simkah.

    Aplikasi ini mampu mendeteksi informasi keseluruhan dari pemilik kartu berupa nama, nomor buku nikah hingga tempat dan tanggal pernikahan.

  • Sebagai upaya menghentikan praktik pemalsuan data perkawinan dan perselingkuhan.
    Saat ini, pemalsuan buku nikah sangat marak terjadi di masyarakat Indonesia. Biasanya pemalsuan ini dilakukan untuk menutupi perselingkuhan atau jaringan prostitusi

    Banyak pasangan laki-laki dan perempuan menghalalkan berbagai cara untuk membenarkan tindakan mereka. Guna mengatasi hal ini, diterbitkannya kartu nikah difungsikan untuk menekan angka perselingkuhan atau pemalsuan data pernikahan.
  • Bisa digunakan sebagai perwakilan buku nikah untuk urusan-urusan tertentu
    Untuk urusan-urusan sistem keadministrasian yang mensyaratkan buku nikah, kartu nikah ini bisa digunakan sebagai perwakilannya.

    Mengingat kartu ini lebih praktis, fleksibel dan lebih mudah dibawa kemana-mana daripada buku nikah.
  • Untuk memudahkan Kamu dalam menyimpan dokumen
    Kartu nikah diwujudkan dalam bentuk fisik layaknya kartu atm dan ktp. Ukuran yang cukup kecil dan tipis bisa memudahkan Kamu ketika menyimpannya di dompet atau tas.

    Kartu ini juga sangat ringan karena terbuat dari kertas dan lapisan plastik khusus.
  • Bisa dibawa kemana saja
    Kamu bisa membawa kartu ini kemana saja karena hanya membutuhkan ruang yang kecil. Jika Kamu tidak membawa kartu fisiknya, cukup sediakan aplikasi Simkah di smartphone dan login sesuai data diri Kamu. Secara otomatis Kamu juga memiliki e-kartu NIKAH.
  • Proses validasi lebih cepat
    Membawa buku nikah memang terbilang cukup ribet dan tidak efisien. Maka, dengan adanya kartu nikah akan lebih memudahkan Anda untuk membawa bukti legalitas pernikahan kemana saja. Hal ini juga akan lebih mempercepat proses validasi data yang mendadak.
  • Bersinergi dengan data kependudukan
    Kartu nikah tidak hanya terintegrasi dengan aplikasi Simkah saja, tetapi juga sudah terhubung dengan data disdukcapil. Data yang ada di kartu ini juga sama persis dengan data e-ktp mulai dari nama, tanggal lahir hingga status perkawinan.

Cara Mendapatkan Kartu Nikah

Cara Mendapatkan Kartu Nikah

Pasangan yang sudah sah secara hukum dan agama akan dicatat pada buku nikah dan dilengkapi dengan kartu nikah. Jika Kamu ingin mendapatkannya, berikut ketentuan yang harus dipenuhi:

1. Kelengkapan dokumen syarat nikah

  • Kelengkapan dokumen berdasarkan ketentuan KUA (bagi umat muslim) atau disdukcapil (bagi non muslim).
  • Syarat administrasi yang harus dipenuhi sebelum melangsungkan pernikahan cukup banyak. Kamu perlu menyiapkan KTP, KK, surat keterangan dari RT/RW hingga pas foto.
  • Khusus untuk pas foto ini juga harus sesuai ketentuan yakni ukuran foto buku nikah menggunakan 2×3 dan 4×6.

2. Melunasi biaya pernikahan sebesar 600 ribu rupiah

Ketentuan kedua yang harus Kamu penuhi sebagai cara mendapatkan kartu nikah adalah membayar uang pendaftaran pernikahan. Besaran uang yang harus dibayarkan cukup 600 ribu rupiah. Pembayaran dilakukan melalui bank BUMN terdekat.

Setelah pembayaran selesai, Kamu akan diberikan bukti pembayaran 1 lembar. Usahakan untuk fotokopi dokumen ini sebanyak 1 hingga 3 lembar. Jika bukti pembayaran hilang baik sengaja maupun tidak, biasanya pihak bank tidak akan mengeluarkan kembali bukti pembayaran tersebut.

3. Melampirkan buku nikah suami dan istri beserta fotokopinya

Setelah ijab qabul, biasanya Kamu dan pasangan harus menandatangani buku nikah sebagai bukti hukum yang sah atas terlaksananya sebuah perkawinan. Buku nikah dibuat untuk pihak istri dan suami. Pihak istri warna hijau dan pihak suami warna merah.

Guna mendapatkan kartu ini, Kamu harus melampirkan buku nikah asli (suami dan istri) beserta fotokopiannya berjumlah 3 lembar. Maka dari itu, sebelum membuat kartu perkawinan, pastikan dahulu semua data di buku nikah sudah tercatat dengan benar.

4. Melampirkan pas foto suami dan istri

Pas foto tidak hanya dibutuhkan sebagai pra syarat pernikahan, tetapi juga menjadi ketentuan wajib bagi Kamu yang ingin membuat kartu nikah. Sama halnya dengan background foto buku nikah, pas foto untuk kartu nikah ini juga harus berlatar biru dengan pakaian bebas sopan.

5. Melampirkan e-ktp suami dan istri

Dokumen terakhir yang harus Kamu lampirkan adalah e-ktp suami dan istri. Dokumen ini digunakan untuk mencocokkan data yang sudah tertera dalam buku nikah dan selanjutnya bisa diproses untuk pembuatan kartu nikah.

Agar verifikasi data tidak mengalami kendala, Anda bisa mengurus dahulu perubahan data e-ktp di kantor disdukcapil setempat. Perubahan data yang terjadi setelah perkawinan biasanya meliputi tempat tinggal/domisili dan status perkawinan.

Cara membuat kartu nikah elektronik hingga untuk siapakah kartu tersebut dibuat sudah tersaji pada ulasan di atas. Agar semua proses segera terselesaikan, pastikan syarat dan ketentuan sudah dipenuhi secara lengkap.

Sudahkah tahun ini foto Kamu dan pasangan berdampingan di kartu nikah?

Leave a Comment