Nikah Siri: Syarat, Hukum dan Tata Caranya

Ada berbagai alasan kenapa seseorang memilih melakukan nikah siri. Namun apapun alasannya, nikah secara siri harus memenuhi syarat sah dan rukun nikah. Ini agar nikahnya sah secara aturan agama Islam, sehingga hubungan suami istri hasil pernikahan siri tetap halal.

Umumnya pernikahan selalu diidentikkan dengan perayaan dan hadirnya banyak tamu undangan. Tetapi berbeda dengan pernikahan secara siri. Umumnya tidak ada yang namanya acara resepsi pernikahan dengan mendatangkan tamu undangan.

Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa nikah siri kerap dicap negatif. Padahal sebenarnya tidak seperti yang kebanyakan orang nilai, tergantung kasus nikah sirinya. Tidak boleh menyama ratakan bahwasanya nikah siri itu negatif.

Nah, yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah seperti apa kedudukan hukumnya di mata agama dan negara? Kemudian bagaimana tata cara menikah secara siri agar pernikahan tetap sah dan halal?

Apa Itu Nikah Siri ?

nikah siri - definisi

Jika dilihat dari sumber bahasanya, kata ‘sirri’ berasal dari Bahasa Arab yang berarti ‘rahasia’. Itulah kenapa nikah secara siri sering disebut dengan pernikahan rahasia atau secret marriage.

Jika dilihat dari praktik pernikahan secara siri yang “ada di masyarakat Indonesia“, ada beberapa definisi yang berbeda terkait dengan nikah secara siri ini. Paling tidak ada tiga definisi yang bisa diambil, diantaranya adalah:

Definisi nikah siri yang pertama, pernikahan yang sah menurut hukum agama namun tidak sah menurut hukum negara. Dalam hal ini syarat maupun rukun nikah secara Islam sudah dipenuhi semua. Hanya saja pernikahannya tidak tercatat resmi di KUA.

Definisi kedua, pernikahan yang memenuhi syarat sah dan rukun nikah, namun dirahasiakan karena sebab adanya pertimbangan-pertimbangan tertentu. Misalnya akan mendapatkan penilaian yang buruk atau fitnah dari masyarakat atau disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Definisi ketiga, pernikahan tanpa wali. Umumnya dilakukan karena pihak wali perempuan tidak menyetujui adanya pernikahan. Atau biasanya dipilih hanya untuk memuaskan nafsu syahwatnya saja.

Berdasarkan madzhab Syafii, Maliki dan Hambali, tidak sah pernikahan tanpa wali. Maka bagi kalian yang hendak nikah siri, harus berhati-hati jika nikah tanpa wali. Karena pernikahan kalian tidak sah dan hubungan suami istri di antara kalian tidak halal.

Jikapun si wanita sebatang kara, tidak punya orang tua atau kerabat yang bisa dijadikan wali, maka sebaiknya menikah di KUA (tidak usah siri), nanti dari KUA ada yang bertindak sebagai wali hakim.

Hukum Nikah Siri

hukum nikah siri

Terkait dengan status hukum nikah siri, MUI (Majelis Ulama Indonesia) pernah mengeluarkan fatwa tentang hukum nikah secara siri atau yang sering disebut juga dengan nikah di bawah tangan ini.

Menurut MUI, nikah di bawah tangan hukumnya sah selama syarat dan rukun nikah terpenuhi. Namun menjadi haram jika terdapat madharat dan tidak sah jika ada syarat dan rukun yang tidak dipenuhi.

Meskipun demikian, MUI tetap menganjurkan pernikahan harus dicatatkan secara resmi, yakni KUA. Tujuannya sebagai langkah preventif untuk menolak madharat atau dampak negatif.

Sementara itu, menurut Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta al-Mishriyyah, nikah urfi atau nikah siri merupakan pernikahan yang sah secara syariat. Dengan ketentuan rukun-rukun dan syarat-syarat nikah secara syariat dipenuhi.

Sebenarnya masih banyak lagi fatwa-fatwa yang membahas khusus terkait dengan hukum nikah secara siri ini. Namun secara garis besar rata-rata mensahkan nikah secara siri dengan catatan terpenuhinya syarat-syarat dan rukun-rukun nikah secara syariat.

Syarat Nikah Siri

Pernikahan secara siri dipandang sah jika syarat dan rukun nikah terpenuhi menurut pandangan syariat. Pada dasarnya ada berbedaan pendapat terkait dengan rukun nikah. Namun para ulama di Indonesia rata-rata berpendapat jika rukun nikah ada 5.

  • Syarat Nikah Siri #1 adalah pengantin berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.
  • Syarat Nikah Siri #2, adanya wali bagi pengantin wanita.
  • Syarat Nikah Siri #3 adalah mahar.
  • Syarat Nikah Siri #4 adalah dua orang saksi berjenis kelamin laki-laki.
  • Syarat Nikah Siri #5 adalah ijab dan kabul.

Jadi kalau diperhatikan, syarat nikah biasSementara itu syarat sah nikah sendiri diantaranya terdiri calon pengantin laki-laki maupun perempuan harus beragama Islam, bukan mahram, wali akad nikah, sedang tidak ihram atau berhaji, dan tidak ada paksaan.

Tata Cara Nikah Siri

Apapun alasan Anda memilih melakukan pernikahan secara siri, namun jangan sampai Anda tidak tahu seperti apa tata caranya. Artinya jangan sampai pernikahan yang sudah Anda lakukan ini tidak sah menurut syariat Islam.

Inilah poin paling penting yang harus diperhatikan betul dalam nikah siri atau pernikahan di bawah tangan ini. Sebenarnya sudah sangat jelas tata cara pernikahan secara siri ini. Sebab sebelumnya sudah dibahas jika nikah secara siri dikatakan sah jika semua rukun dan syarat nikah terpenuhi.

Artinya agar pernikahan siri yang Anda lakukan sah di mata hukum Islam, semua proses pernikahan harus sesuai dengan syarat dan rukun yang sudah ditetapkan oleh syariat Islam. Barulah pernikahan secara siri yang Anda lakukan dinyatakan sah secara hukum syariat Islam.

Status Hukum Pernikahan Siri di Mata Negara

Setelah tahu syarat serta tata cara nikah siri, ada baiknya tahu seperti apa kedudukannya di mata negara. Sebab untuk kedudukan nikah secara siri di mata hukum agama sudah sangat jelas. Selama syarat dan rukun nikah terpenuhi, maka status hukumnya sah menurut ketentuan syariat.

Jika merujuk UU Perkawinan Nomor 01 Tahun 1974 dan PP Nomor 09 Tahun 1975, pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, harus terdata secara resmi. Kemudian diharuskan juga untuk melampirkan surat pengantar RT dan RW lengkap dengan fotokopi KTP, KK, dan foto 2×3 dan 3×4 masing-masing berjumlah empat lembar. Setelah itu pihak kelurahan akan mengeluarkan form N1, N2, dan N4.

Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah apakah di dalam nikah secara siri melakukan semua hal tersebut?

Tentu saja jawabannya adalah tidak. Sebab tidak ada yang namanya akta nikah dan surat-surat resmi yang terkait dengan legalitas pernikahan. Artinya pernikahan siri ini dianggap tidak sah di mata negara. Jadi pernikahan Anda tidak akan diakui oleh negara.

Himbauan MUI Terkait Nikah Secara Siri

nikah siri - himbauan Majlis Ulama Indonesia

Pada tahun 2006, Majelis Ulama Indonesia atau MUI mengeluarkan fatwa lewat keputusan Ijtima Ulama Se-Indonesia ke-2 yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Fatwa MUI tersebut menyatakan jika nikah secara siri sah secara agama asalkan terpenuhinya semua syarat dan rukun nikah sesuai dengan syariat Islam. Contohnya seperti ada pengantin laki-laki dan perempuan, wali, dua orang saksi (harus laki-laki), mahar, dan ijab kabul.

Meskipun demikian, lebih lanjut MUI menekankan jika pernikahan siri hukumnya bisa menjadi haram jika berpotensi menimbulkan mudarat atau dampak negatif. Oleh sebab itu para ulama di Indonesia umumnya sepakat jika pernikahan harus dicatatkan secara resmi di administrasi negara.

Selain itu harus juga dicatatkan di KUA (Kantor Urusan Agama) dan Dinas Dukcapil Kemendagri (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri). Dengan demikian, pernikahan Anda akan memiliki kekuatan hukum agama maupun negara.

Pada dasarnya pernikahan secara siri secara sah di mata hukum agama. Sayangnya ada beberapa praktik nikah secara siri yang justru melenceng dari ketentuan syariat Islam. Misalnya dengan tidak adanya wali. Padahal nikah secara siri dikatakan sah jika sudah terpenuhinya semua syarat dan rukun nikah yang sudah ditetapkan oleh syariat Islam.

Meskipun nikah di bawah tangan seperti ini sah di mata hukum agama, namun banyak sekali pihak-pihak yang menyarankan untuk tidak melakukannya. Hal ini dikarenakan berpotensi besar merugikan istri maupun anak.

Namun terlepas dari itu semua, salah besar jika Anda menilai negatif pernikahan secara siri. Meskipun di sisi lain, berpotensi besar merugikan pihak wanita dan anak yang dilahirkan dari hasil nikah siri tersebut.

Terlanjur Nikah Siri, Apa Bisa Dijadikan Resmi ?

Beberapa pasangan yang sudah terlanjur nikah siri, kemudian ketika menjalani rumah tangga baru sadar betapa susahnya menyandang status “nikah siri”.

Akhirnya pasangan tersebut ingin menjadikan nikahnya resmi, tercatat di KUA.

Apakah hal ini bisa dilakukan ? dan bagaimana prosedurnya ?

Untuk masalah ini dibahas secara mendetail di artikel “Tata Cara Menjadikan Nikah Siri Menjadi Resmi (Tercatat di KUA)”

Leave a Comment