12 Jenis Pernikahan Yang Dilarang Dalam Islam

Jenis-Jenis Pernikahan yang dilarang dalam Islam – Tak dipungkiri, Allah SWT dan Rasul-Nya SAW menganjurkan manusia untuk menghindari membujang. Dan sebaliknya, mendorong untuk menikah dan berketurunan.

Dan Allah SWT ketika memerintahkan dan menganjurkan sesuatu, pasti disertai dengan petunjuk dan rambu-rambu, termasuk urusan pernikahan.

Salah satu syari’at pernikahan yang wajib diketahui adalah larangan untuk jenis-jenis pernikahan tertentu. Tentunya, kita tidak boleh menabrak aturan ini.

Apa saja jenis-jenis pernikahan yang dilarang dalam Islam ?

jenis-jenis pernikahan yang dilarang dalam islam

1. Larangan Menikahi Wanita Yang Masih Ber-Suami

Sebelum si wanita bercerai dari suaminya dan belum lewat masa iddahnya, maka dilarang bagi laki-laki lain untuk menikahinya.

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Dan (diharamkan juga menikahi) wanita-wanita yang bersuami, kecuali hamba sahaya yang kamu miliki. (Allah telah menetapkan hukum ini) sebagai ketetapan-Nya atas kalian.

(QS. An-Nisa : 24)

2. Larangan Menikah Lebih Dari 4 Istri

Islam menghalalkan poligami. Namun membatasi, dengan maksimal 4 istri. Jadi jika saat ini kamu sudah punya 4 istri, maka ketika kamu ingin menikah lagi, kamu harus menceraikan salah satu terlebih dahulu.

Hanya Rasulullah SAW yang diizinkan Allah SWT menikah lebih dari 4 istri. Setelahnya, umatnya, maksimal hanya diizinkan 4 istri.

عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ أَسْلَمْتُ وَعِنْدِى ثَمَانِ نِسْوَةٍ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا

Dari Qais bin Harits, ia berkata, ketika aku masuk Islam, aku memiliki 8 orang istri. Kemudian akupun melaporkan hal tersebut ke Nabi SAW. Lalu beliau (Nabi SAW) bersabda: Pilihlah 4 dari mereka (kedelapan orang istri)

(HR. Abu Dawud No. 2241 dan Ibnu Majah No. 1952)

3. Diharamkan Menikah Dengan Laki-Laki/ Perempuan Pezina

Para wanita baik-baik, diharamkan untuk menikai pria pezina. Pun sebaliknya, laki-laki baik-baik diharamkan menikahi wanita pezina/ pelacur.

Dalil dari diharamkannya pernikahan dengan pezina adalah Qur’an surat An-Nur ayat 3 dan ayat 26.

4. Haram Menikahi Istri Yang Sudah Ditalak 3

Jika kamu punya istri. Kemudian kamu menjatuhkan talak 3 ke istri kamu, maka sesudah itu kamu haram menikahinya lagi.

Kecuali…

Jika mantan istri kamu sudah menikah dengan pria lain. Kemudian ketika menikah dengan pria lain, mantan istri kamu sudah pernah bersetubuh dengan pria lain sebagai suami barunya.

Maka ketika cerai dengan suami barunya (setelah pernah bersetubuh) baru boleh kamu nikahi lagi.

5. Haramnya Menikah Dengan Wanita Dalam Masa Iddah

وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ

Dan janganlah kalian berazam (bertetap hati) untuk ber-aqad nikah, sehingga habis masa iddahnya

QS. Al-Baqoroh : 235)

Masa iddah adalah masa tunggu wanita. Maksudnya yaitu masa tunggu wanita untuk bisa menikah lagi.

Masa tunggu ini bisa diakibatkan oleh cerai atau ditinggal mati suami dalam keadaan tidak hamil atau hamil.

Tujuan utama dari masa iddah ini adalah memastikan bahwa rahim si wanita sudah kosong. Sehingga ketika nanti punya keturunan, nasabnya jelas sebagai anak dari suami barunya.

Untuk aturan hitungan berapa lama masa iddah, bisa cek di artikel INI

6. Pernikahan Yang Diharamkan Karena Dilakukan Saat Ihram

Sebetulnya bukan hanya menikah saja, saat ihram (baik pria maupun wanita) dilarang melakukan lamaran, menikah dan juga menikahkan.

لاَ يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلاَ يُنْكَحُ وَلاَ يَخْطُبُ

Tidak boleh bagi seorang yang sedang ber-ihram untuk menikah. Tidak boleh juga menikahkan dan juga tidak boleh melamar.

(HR. Muslim No.1409)

7. Pernikahan Yang Dilarang Karena Mahram

Selanjutnya, pernikahan yang diharamkan adalah pernikahan yang dilakukan dengan mahram kita.

Baik itu mahram karena keturunan, sepersusuan ataupun mahram karena hubungan pernikahan/ kekeluargaan.

Siapa saja mahram kita ? Kamu bisa cek di artikel…

Daftar Mahram Pria/ Wanita (Manusia Yang Haram Dinikahi)

8. Haram Menghimpun Wanita dengan Saudarinya/ Bibinya Dalam Satu Pernikahan

Jika seorang pria sedang dalam ikatan pernikahan dengan seorang wanita, maka dia tidk boleh menikahi saudari kandung si istri atau bibi dari si istri.

Kecuali jika telah menceraikan si istri, baru boleh menikahi saudari kandung atau bibi dari mantan istri.

9. Haramnya Pernikahan Dengan Orang Kafir/ Musyrik Selain Yahudi dan Nasrani

Bagi laki-laki ataupun wanita muslim diharamkan menikahi wanita/ pria kafir selain dari Yahudi dan Nasrani.

Ini berdasarkan firman Allah SWT di Surat Al-Baqoroh Ayat 221:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan janganlah kalian (pria muslim) menikahi wanita-wanita musyrik sampai mereka beriman. Sesungguhnya budak wanita mukmin lebih baik dari wanita-wanita musyrik meskipun mereka (wanita musyrik) lebih menarik hatimu. Dan janganlah kalian menikahkan pria-pria musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sehingga mereka beriman. Dan sesungguhnya budak pria yang mukmin lebih baik dari mereka meskipun mereka (pria musyrik) lebih menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izinnya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya bagi manusia, agar mereka mengambil pelajaran.

(QS. Al-Baqoroh : 221)

Khusus untuk pria dibolehkan menikah dengan golongan Yahudi atau Nasrani, sedangkan wanita, tidak dibolehkan. Wanita muslimah hanya boleh menikah dengan pria muslim.

10. Larangan Nikah Mut’ah

Salah satu jenis pernikahan yang dilarang dalam Islam adalah nikah mut’ah. Yaitu nikah sementara (muaqqot) atau nikah terputus (munqothi’).

Bahasa sederhananya, nikah mut’ah adalah nikah/ kawin kontrak. Yaitu menikahi wanita untuk waktu tertentu, misal nikah selama 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun (atau waktu sesuai kesepakatan si pria dan wanita).

Sebelumnya, nikah mut’ah ini dibolehkan oleh Rasulullah SAW. Kemudian dilarang hingga hari kiamat nanti.

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ حِينَ دَخَلْنَا مَكَّةَ ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ مِنْهَا حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا

Rasulullah SAW menyuruh kami untuk nikah mut’ah sewaktu pembebasan kota Makkah (Fathul Makkah) saat memasuki kota Makkah. Selanjutnya, sebelum meninggalkan Makkah, beliau SAW melarang bentuk nikah (tersebut).

(HR. Muslim No. 1406)

11. Larangan Nikah Syighor

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الشِّغَارِ ، وَالشِّغَارُ أَنْ يُزَوِّجَ الرَّجُلُ ابْنَتَهُ عَلَى أَنْ يُزَوِّجَهُ الآخَرُ ابْنَتَهُ ، لَيْسَ بَيْنَهُمَا صَدَاقٌ

Sesungguhnya Rasulullah SAW Telah melarang untuk melakukan nikah syighor. Yaitu bentuk nikah: seseorang menikahkan anaknya pada orang lain namun orang tersebut mensyaratkan untuk menikahkan anaknya untuknya dan di antara keduanya tidak ada mahar.

(HR. Bukhari No. 5112 dan Muslim No. 1415)

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الشِّغَارِ. زَادَ ابْنُ نُمَيْرٍ وَالشِّغَارُ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ زَوِّجْنِى ابْنَتَكَ وَأُزَوِّجُكَ ابْنَتِى أَوْ زَوِّجْنِى أُخْتَكَ وَأُزَوِّجُكَ أُخْتِى

Rasulullah SAW telah melarang bentuk nikah syighor. Ibnu Numair kemudian menambahkan: Bentuk nikah syighor adalah seseorang berkata kepada orang lain “Nikahkanlah putrimu padaku dan aku akan menikahkan putriku padamu. Atau, nikahkanlah saudara perempuanmu padaku dan aku akan menikahkan saudara perempuanku padamu.

(HR. Muslim No. 1416)

Dapat disimpulkan bahwa nikah syighor adalah si X menikahkan orang yang dalam perwaliannya (entah itu anak atau saudara) kepada si Y. Namun si X memberi syarat, yaitu agar si Y juga menikahkan orang yang dalam perwaliannya (anak atau saudara) kepada si X.

Bentuk nikah syighor ini diharamkan. Baik itu disertai adanya mahar ataupun tanpa mahar.

12. Larangan Nikah Muhallil

Dalam Islam, suami yang sudah menceraikan istrinya bisa ruju’ atau nikah kembali. Dengan batasan hingga talak/ cerai tiga kali. Jika si suami sudah menceraikan istri sebanyak tiga kali, maka diharamkan untuk menikahi istrinya lagi.

Keharaman ini tidak berlaku selamanya.

Keharaman ini hilang ketika si istri sudah menikah lagi dengan pria lain hingga melakukan persetubuhan. Kemudian dicerai oleh pria lain tersebut.

Setelah dicerai oleh pria lain, maka suami yang terdahulu, yang sudah menceraikannya sebanyak tiga kali, bisa menikahinya lagi.

Nah, kadang manusia ngakal-ngakalin, mencari cara agar bisa menikahi istrinya yang sudah dicerai 3x. Caranya dengan meminta pria lain untuk menikahi mantan istrinya dan menceraikannya (setelah mensetubuhinya).

Hal ini dilakukan agar si suami terdahulu bisa menikahi mantan istrinya lagi.

Pernikahan antara pria lain dengan si istri (yang sudah ditalak 3x) dengan tujuan agar si istri bisa balik ke mantan suami yang sudah mentalaknya 3x, ini yang disebut nikah muhallil.

Jadi tujuan nikah si pria lain dengan si wanita yang sudah ditalak 3x tersebut bukan memang ingin menikah jangka panjang untuk membina sebuah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Tapi hanya sekedar agar si wanita dia ceraikan (setelah dia setubuhi) dan si wanita bisa balik lagi ke mantan suaminya (yang sudah mentalaknya 3x).

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ

Rasulullah SAW melaknat Muhallil (pria yang menikahi seorang perempuan dengan tujuan agar perempuan itu bisa menikah kembali dengan suaminya yang pertama) dan Muhallal lahu (pria yang menyuruh muhallil untuk menikahi bekas istrinya yg sudah ditalak 3 agar istri tersebut bisa dinikahinya lagi).

(HR. Abu Daud No. 2076 dan Ibnu Majah No. 1934)

Inilah daftar 12 pernikahan yang dilarang dalam Islam. Begitu detailnya Islam mengatur hidup umatnya. Termasuk dalam urusan pernikahan. Maka masihkah kamu ragu dengan kebenaran Islam ?

Leave a Comment