Rukun Nikah dan Syarat Sah-nya Dalam Islam

Rukun dan Syarat Sah Pernikahan – Perkara pernikahan diatur dengan detail dalam Islam. Aturan yang pokok tersebut terkandung dalam rukun dan syarat sah pernikahan.

Kamu yang mau menikah dan pihak-pihak yang terlibat dalam pernikahan wajib tahu. Karena hal ini sangat urgent, mengingat kedua hal ini (syarat dan rukun) menentukan sah atau tidaknya pernikahan kamu.

Perbedaan Syarat dan Rukun

Sebelum mengulas daftar syarat sah dan rukun nikah, sedikit penjelasan perbedaan antara rukun dan syarat.

Dalam term fikih Islam, Rukun adalah hal wajib yang harus ada dalam suatu perbuatan/ pelaksanaan ibadah dan termasuk dalam bagian dari pelaksanaan ibadah tersebut.

Sedangkan syarat adalah hal wajib untuk suatu perbuatan/ pelaksanaan suatu ibadah namun bukan termasuk bagian dari ibadah tersebut.

Misal dalam Sholat: Takbiratul Ihram, Ruku’, Sujud termasuk rukun sholat. Ketiganya merupakan bagian dari pelaksanaan sholat.

Sedangkan wudhu, bebas dari najis termasuk syarat sah sholat. Tapi wudhu pelaksanaanya di luar sholat, bukan dalam bagian rangkaian pelaksanaan sholat.

Untuk pernikahan, antara syarat sah dan rukunnya, para ulama berbeda pendapat. Beda pendapat dalam pengkategorian. Ada beda pengkategorian dalam hal mana yang termasuk rukun nikah dan mana yang termasuk syarat sah.

Tapi di sini kita tidak membahas detail perbedaan ulama tentang mana saja yang masuk kategori rukun dan mana saja yang termasuk syarat.

Yang penting kita penuhi semua (entah itu masuk rukun dan syarat), maka pernikahan kita sah menurut pandangan Syariat Islam.

Baik, langsung saja, berikut apa saja rukun dan syarat sah nikah beserta penjelasannya…

5 Rukun Sah Nikah Dalam Islam

Rukun Nikah

Inti acara suatu pernikahan adalah di akad nikah. Pada prosesi akad nikah inilah rukun-rukun nikah berlaku.

1. Adanya Mempelai Pria

Ya, saat akad nikah harus ada dan hadir mempelai pria. Pada saat akad nikah ini si mempelai pria tidak boleh diwakilkan. Benar-benar harus ada, harus hadir di prosesi akad nikah ini.

2. Adanya Mempelai Wanita

Sama halnya dengan mempelai pria, mempelai wanita juga harus ada, harus hadir di acara akad nikah ini. Tidak boleh diwakilkan.

3. Hadirnya Wali Nikah (Bagi Mempelai Wanita)

Ya, untuk wanita harus disertai dengan walinya. Dan yang bisa menjadi wali nikah bagi mempelai wanita adalah:

  • Ayah kandung
  • Kakek dari jalur ayah
  • Saudara kandung ayah yang laki-laki (Pak De atau Pak Lik)
  • Saudara se-kandung laki-laki, baik itu kakak ataupun adik
  • Saudara se-ayah yang laki-laki
  • Anak laki-laki dari Pak De atau Pak Lik dari jalur ayah

Wajib Baca : Syarat Wali Nikah dan Urutannya

4. Adanya 2 Orang Pria Sebagai Saksi Nikah

Dua orang saksi ini bisa dari keluarga, kerabat, tetangga yang dianggap layak dijadikan saksi. Dan syarat menjadi saksi nikah adalah:

  • Muslim
  • Pria
  • Sudah baligh
  • Waras/ tidak gila
  • Merdeka (bukan seorang budak)
  • Adil

5. Adanya Ijab Qabul

Ijab itu dengan lafadz “Zawwajtuka Fulanah.. (Saya nikahkan engkau dengan si fulanah..)” atau yang semakna dengan lafadz ini.

Qabul itu dengan lafadz “Qobiltu hadzan nikah… (Saya terima pernikahan ini..)” atau lafadz lain yang semakna dengan lafadz ini.

Biasaya lafadznya kemudian ditambah “..dengan maskawin/ mahar ini (misal emas 24 Karat seberat 1 Kg)”

Menurut pendapat mayoritas ulama, Ijab Qobul lafadznya tidak mesti harus menggunakan bahasa arab. Yang penting maknanya adalah menikahkan dari pihak wali wanita dan menerima pernikahan dari pihak pria.

Syarat sahnya ijab qabul:

  1. Harus dengan kata menikah, misal “Saya menikahkan…” atau yang semakna.
  2. Ucapan ijab qabul itu bersambung, jadi setelah si wali wanita mengucapkan ijab, kemudian langsung di sambut dengan ucapan qabul dari si pria.
  3. Semua yang terlibat (Mempelai Pria, Wanita, Wali Nikah dan Saksi) kondisinya harus waras akal/ tidak gila saat ijab qabul.
  4. Harus jelas wanita yang dinikahkan, dengan menyebut namanya. Misal si wali wanita tidak boleh menyebut, saya nikahkan putriku dengan engkau. Sementara dia punya 3 putri. Jadi sebut namanya yang jelas, Misal saya nikahkan putriku Aminah dengan engkau.
  5. Makna menikahkan harus sekarang. Misal yang dilarang, saya nikahkan putriku aminah dengan engkau bulan depan. Ini tidak boleh, dalam ijab qabul harus sekarang.
  6. Makna menikah tidak ada jangka waktu. Dilarang, Misal: Saya nikahkan putriku amina dengan engkau selama 1 tahun saja. Ini tidak boleh.

Syarat Sah Nikah Menurut Islam

syarat sah nikah

Selain memenuhi rukun pernikahan, agar nikah kamu sah, kamu juga harus memenuhi semua persyaratannya, yaitu:

1. Jelas Mempelai Pria dan Wanita Yang Dinikahkan

Harus jelas siapa si pria dan siapa si wanita yang dinikahkan (seperti yang sudah disinggung di rukun ijab qabul).

Kejelasan ini bisa dengan menyebut namanya atau penyebutan hal khusus yang menunjukkan ke si pria atau wanita.

Contoh: Kami ulangi, tidak boleh si wali menikahkan dengan lafadz, “Saya nikahkan putriku dengan engkau…” sementara si orang tua mempelai wanita yang bertindak sebagai wali punya 2 atau 3 orang anak wanita.

Jadi biar jelas, harus disebut nama si wanita yang akan dinikahkan. Kalau misal nama anak wanita yang dinikahkan bernama Amelia, maka dia harus menyebut, “Saya nikahkan putriku Amelia dengan engkau..”

2. Syarat Nikah – Kedua Mempelai Tidak Ada Halangan Menikah

Pernikahan sah jika kedua mempelai tidak berhalangan menikah. Seperti:

  • Antara pria dan wanita bukan saling mahram.
  • Bagi wanita, calon suaminya harus muslim. Karena wanita tidak boleh menikah kecuali dengan pria muslim.
  • Jika wanita seorang janda, maka harus sudah selesai masa iddahnya.
  • Jumhur ulama berpendapat, tidak boleh pria/ wanita menikah dalam keadaan ihram. Baik ihram saat haji ataupun umroh. Larangan ini juga berlaku bagi wali si wanita.
  • Halangan menikah lainnya adalah wanita yang dinikahkan tidak dalam kondisi ber-suami.

Lebih lengkap tentang penghalang pernikahan bisa baca Pria/ Wanita Yang Haram Dinikahi . Juga baca Pernikahan Yang Dilarang Islam

3. Keridhaan/ Kerelaan Mempelai Wajib Sebagai Syarat Sah Pernikahan

Ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

لاَ تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

Tidaklah dinikahkan seorang janda hingga dia dimintai pendapatnya dan tidaklah dinikahkan seorang gadis hingga dia dimintai izinnya.

(HR. Bukhori No. 5136 dan Muslim No. 3458)

Dalam beberapa riwayat, tanda bahwa si wanita mau dinikahkan adalah minimal dengan diam. Jadi kalau wanita ditawari menikah dengan sesosok pria, dia kemudian diam, itu artinya dia menerima.

4. Adanya Izin Dari Wali (Bagi Mempelai Perempuan)

Seorang perempuan sah menikah jika dia sudah mendapatkan izin dari walinya.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا، فَإِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ

Siapapun perempuan yang nikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya bathil/ batal-tidak sah(Rasul SAWMengulangi Hingga 3X). Jika seorang menggaulinya maka perempuan tersebut berhak atas maskawin/ mahar sebab dia telah menghalalkan kemaluannya. Jika mereka berselisih maka sulthan (penguasa suatu negeri) yang menjadi wali bagi perempuan yang tidak memiliki wali.

(HR. Abu Dawud No. 2083 dan At-Tirmidzi No. 1102)

Islam sangat adil bukan ?

Di satu sisi tidak mengizinkan perempuan menikah tanpa izin wali, tapi di sisi lain, si wali juga tetap harus menanyakan kerelaan si perempuan. Apakah dia mau dinikahkan atau tidak.

Inilah rukun nikah dan syarat sah-nya sesuai syariat Islam. Dan ingat ! pernikahan kita tidak sah kecuali memenuhi syarat dan rukun-rukunnya.

Leave a Comment