Wali Nikah: Syarat, Macam-Macam dan Urutannya

Syarat Wali Nikah dan Macam-Macamnya – Tidak ada nikah tanpa wali (bagi wanita), di bawah ini hanyalah satu dari sekian hadits yang menyebutkan wajibnya seorang wali bagi pengantin wanita. Masih banyak hadits lain yang menyatakan wajibnya seorang wali nikah.

Sabda Rasulullah yang diriwayatkan ‘Aisyah RA…

Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan 2 orang saksi yang adil. Siapa yang nikah selain dari itu maka nikahnya bathil (batal).

(HR. Ibnu Hiban 4075)

Tapi kita harus perhatikan syarat sah-nya, lantas apa saja sih syarat-syarat seseorang bisa dijadikan sebagai wali nikah ?

6 Syarat Wali Nikah

syarat wali nikah

1. Seorang Wali Nikah Harus Muslim

Yang menjadi wali si wanita dalam pernikahan haruslah yang beragama Islam. Jika kafir, maka dia tidak sah menjadi seorang wali. Dan karena walinya tidak sah maka nikahnya juga tidak sah.

Jika calon mempelai wanita adalah seorang ahli kitab (yahudi atau nasrani), maka si wali tidak harus muslim.

2. Wali Pernikahan Harus Sudah Baligh

Anak yang masih kecil, belum baligh tidak bisa dijadikan sebagai wali nikah.

Betapa Islam sangat hati-hati dengan hal ini. Mengingat wali adalah seseorang yang diamanahi suatu urusan (calon mempelai yang hendak nikah) maka tidak layak kalau orang yang akalnya belum genap (belum baligh) diserahi amanah ini.

3. Berakal/ Waras

Berakal di sini bukan maksudnya harus jenius, IQ nya 200. Tapi maksudnya bisa berpikir normal, tidak gila.

4. Berjenis Kelamin Laki-Laki

Dalam Islam, yang sah menjadi seorang wali perkawinan adalah pria. Kelaminnya harus jelas-jelas pria, waria tidak boleh dijadikan sebagai wali.

5. Syarat Wali Nikah Harus Merdeka

Maksud merdeka di sini adalah si wali bukan seorang budah/ hamba sahaya.

Dulu di zaman Rasulullah SAW perbudakaan masih ada. Sedang di saat ini, terutama di Indonesia, budak yang seperti di zaman Rasulullah SAW rasanya tidak ada.

6. Adil

Adil yang dimaksud adalah seorang muslim yang menjaga martabatnya. Bukan muslim yang fasik.

Namun untuk persyaratan adil ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Terutama dalam hal parameter keadilan.

Adil kalau sesuai definisi syari’at adalah orang yang menjalankan semua ajaran Islam dan menjauhi larangannya.

Kalau diterapkan secara leter lek, kaku, bahwa yang dimaksud adil adalah orang yang selalu menjalankan perintah agama dan menjauhi semua yang haram, sebagaimana di zaman sahabat, tentu akan sulit menentukan wali nikah.

Sehingga sebagian besar ulama dan juga KUA, adil dinilai dari pandangan masyarakat tentang si wali. Jika si wali ini dianggap sebagai orang baik oleh masyarakat setempat, maka boleh menjadi wali.

Macam-Macam Wali Perkawinan

macam dan urutan wali nikah
Source: Nibajja.Web.app

Sebelum menjabarkan macam-macam wali dalam perkawinan, definisi wali sendiri adalah seseorang yang ditugasi untuk mengawasi memantau mengurusi urusan seseorang.

Dalam hal pernikahan, wali nikah adalah orang yang berhak mengurusi (lebih khususnya urusan ijab qabul akad nikah), berhak menikahkan si calon pengantin wanita.

Dan perlu kamu tahu, bahwa wali dalam perkawinan itu ada 3 macam: Wali nasab, Wali Hakim dan Wali Muhakam. Berikut penjelasannya…

1. Wali Nasab dan Urutannya

Nasab artinya keturunan atau pertalian kekeluargaan karena ikatan darah atau perkawinan.

Perihal wali nasab, yang berhak menjadi wali nikah wanita adalah yang memiliki pertalian keluarga dengan si wanita dari jalur Ayah (Bukan dari jalur ibu).

Wali nikah dari jalur nasab memiliki prioritas atau urutan siapa yang paling berhak. Berikut urutannya…

  1. Ayah
  2. Kakek (Ayahnya ayah)
  3. Ayah dari kakek (Buyutnya ayah)
  4. Saudara laki-laki kandung (seayah seibu)
  5. Saudara laki-laki (seayah beda ibu)
  6. Anak saudara laki-laki kandung (ponakan)
  7. Anak saudara laki-laki seayah
  8. Paman (adik/ kakak ayah yang sekandung)
  9. Paman (adik/ kakak ayah yang seayah)
  10. Anak paman kandung (sepupu)
  11. Anak paman seayah
  12. Cucu paman kandung (seayah seibu)
  13. Cucu paman seayah
  14. Paman ayah sekandung (seayah seibu)
  15. Paman ayah yang seayah
  16. Anak paman kandung (seayah seibu)
  17. Anak paman seayah
  18. Paman kakek seayah seibu (kakak buyut/ adiknya buyut)
  19. Paman kakek seayah
  20. Anak paman kakek seayah seibu
  21. Anak paman kakek seayah

2. Wali Hakim

Penguasa suatu negeri bertindak sebagai wali hakim. Dalam konteks di Indonesia, adalah yang ditunjuk oleh pemerintah yang bertindak sebagai wali hakim.

Yang menjalankan fungsi sebagai wali hakim di Indonesia adalah pejabat KUA (Kantor Urusan Agama) yang ditunjuk oleh kementrian agama.

Kapan wali hakim bisa diangkat ?

  • Jika sudah tidak ada lagi wali yang tersedia dari jalur nasab/ keturunan
  • Masih ada wali dari jalur nasab, tapi posisinya jauh, yang sangat memberatkan jika harus datang
  • Wali nasab ada tapi sedang sakit yang tidak memungkinkan untuk menghadiri akad nikah
  • Wali nasab sedang dalam kondisi ihram, baik ihrom haji ataupun umroh

3. Wali Muhakam

Wali muhakam adalah orang yang ditunjuk oleh kedua mempelai dan diangkat untuk menjadi wali pernikahan mereka. Ini dilakukan jika sudah tidak ada wali nasab atau wali hakim.

Tetapi keabsahan wali muhakam ini masih menjadi perdebatan ulama. Sedang di Indonesia, wali muhakam ini sering disalah gunakan dimanfaatkan pasangan yang ingin menikah tapi tidak lewat jalur/ prosedur resmi (KUA).

Maka akan lebih bijaksana jika di Indonesia, di mana sudah ada KUA yang ditunjuk resmi pemerintah, hendaknya menghindari wali muhakam.

Pembahasan lebih detail tentang baik tidaknya pengangkatan wali muhakam bisa cek di SINI

Leave a Comment